Archive for December, 2011

Idrus Tintin

foto tentang landmark atau simbol, tanda, penanda terhadap suatu keadaan, situasi atau daerah tertentu

sedikit mengulas, info dari tante wiki ( http://en.wikipedia.org/wiki/Landmark)

Landmark In modern usage, a landmark includes anything that is easily recognizable, such as a monument, building, or other structure. In American English it is the main term used to designate places that might be of interest to tourists due to notable physical features or historical significance. Landmarks in the British English sense are often used for casual navigation, such as giving directions. This is done in American English as well.
In urban studies as well as in geography, a landmark is furthermore defined as an external point of reference that helps orienting in a familiar or unfamiliar environment. Landmarks are often used in verbal route instructions and as such an object of study by linguists as well as in other fields of study.
A variant is a seamark or daymark, a structure usually built intentionally to aid sailors navigating featureless coasts. An example is the tower at Walton-on-the-Naze in England.

Nah , dengan berbekal dengan kamera dan tunggangan kesayangan, perjalanan dimulai dari rumah pastinya menuju ke landmark terdekat , yakni sebuah komplek bangunan yang terletak di jalan Jend. Sudirman. Ada yang mengatakan kompleks bangunan ini dengan nama Purna MTQ, namun ada juga yang menyebutnya dengan nama Taman Tasik Labuai.

Tempat dibangun untuk penyelenggaraan MTQ Nasional ke XVII, tahun 1994 yang lalu. Di arena ini kita dapat menikmati suasana santai yang mengasyikkan sambil menyantap berbagai macam makanan yang banyak di jual, mulai dari makanan ringan seperti jagung bakar, hingga makanan yang mengenyangkan ada tersedia di sini. Berbagai konser dan pentas seni juga dapat kita saksikan, baik di halaman purna MTQ ini maupun di dalam gedung/hall.

Purna MTQ merupakan pusatnya tempat nongkrong para remaja dan pemuda kota bertuah Pekanbaru, jangan terkejut bila berkunjung pada sore hari banyak anak muda yang menghabiskan waktu mereka disini dengan berbagai hal, dan pada subuh hari-hari libur tempat ini selalu ramai. Selain itu kita dapat pula berkeliling-keliling untuk melihat berbagai rumah adat setiap kabupaten dan kota se-propinsi Riau.

Anjungan Idrus Tintin

Pada pusat lokasi ini berdiri dengan megahnya Anjung Seni Indus Tintin yang kini menjadi salah satu ikon budaya di Pekanbaru.

Dengan ketinggian setara gedung tiga lantai bangunan ini menjulang tinggi dengan nilai estetika yang mengagumkan. jika anda berkesempatan untuk masuk ke dalamnya anda akan melihat terawangan yang tinggi mengarah ke langit-langit gedung.

Anjungan Seni ini juga menjadi tempat dilaksanakannya acara puncak Festifal FIlm Indonesia tahun 2008 . Kini Anjungan Seni Idrus Tintin ini seperti berubah menjadi objek wisata karena selalu ramai dikunjungi masyarakat untuk sekedar berfoto, melihat atau duduk-duduk santai di sore harinya.

Mengapa Idrus Tintin???

Idrus Tintin, dilahirkan di Rengat, Riau, 10 November 1932, dari seorang emak bernama Tiamah dan bapak bernama Tintin. Ibunya Tiamah, berasal dari Penyimahan dan menetap di Enok Dalam, Melayu Timur, Indragiri (sekarang termasuk wilayah Indragiri Hilir, Riau). Sementara bapaknya Tintin, berasal dari Lubuk Ambacang, Indragiri (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Kuantan Singingi, Riau).
Untuk menimba ilmu dan memperluas wawasan seni peran yang telah ia geluti, pada tahun 1959, ia memutuskan mengembara ke Pulau Jawa. Di sinilah, Idrus berkenalan dengan seniman-seniman Jawa antara lain; Asrul Sani, Rendra, B. Jayakesuma, Soekarno M. Noor, Ismet M. Noor, Teguh Karya, Chairul Umam, dan seniman lain. Pertemuan inilah yang menjadi titik tolak perkenalan Idrus dengan seni peran/teater modern/kontemporer.
Idrus Tintin meninggal dunia pada tanggal 14 Juli 2003 di usia 71 tahun, akibat penyakit stroke. Ia meninggalkan 7 orang anak dan dua orang istri, Mahani dan Masani. Ia dikebumikan di pemakaman raja-raja Rengat, berdekatan dengan Masjid Raya Rengat Indragiri Hulu.

ia pernah menjadi salah seprang  penerima Anugrah Sagang (Penghargaan Seni Paling Bergengsi di Tanah Lancang Kuning).

Advertisements

Sarapan Ala Bikers

Alarm udah bunyi dari jam 4 subuh, tapi mata beraaaaaaat sekali rasanya untuk dibuka.., klo tak teringat dengan janji ajakan sarapan, mungkin mata, nyawa  tetap tidak akan bersahabat. ^_^
Setelah janjian ketemuan dengan mas agus d simpang gang depan kost-kostannya, qta berdua ke rumah mas trio, karena yang punya gawe adalah mas trio. Eeeeehh nyampe rumahnya, yang ada dia masi males-malesan dan belum get ready..

suasana pagi yang cerah..

Setelah beberes, akhirnya kita ber3 meluncur ke TKP.. tempatnya lumayan jauh sekitar 17 km menuju utara. Jalan yang kita tempuh bukan melewati jalan Kaliurang, jalan biasa jika akan menuru arah utara, namun jalan yang kita lalui adalah jalan dalam melewati perumahan perumahan penduduk. Jalan yang masih teduh, udara masih sangat segar dan yang pasti masih sangat sepi, karena waktu baru menunjukkan pukul 6 pagi.

Pukul 6 pagi di Jogja sudah sangat terang. Sangat memungkinkan untuk beraktivitas di luar rumah. Ada beberapa ibu yang menyapu halaman, anak-anak yang masih memakai baju tidur dan muka belum dicuci termenung di depan rumah, ada juga beberapa orang yang sudah siap-siap dengan sepeda mereka . Nggowes istilah yang sedang ngetrennya.

Perjalanan pagi ini sangat santai, jikalau tak mengingat motornya mas agus perlu minuman, mungkin kita tetap akan terus santai hingga mencapai tujuan. Tak lama kita menuju jalan besar yakni jalanKaliurang, mencari SPBU terdekat untuk minum motornya mas agus.

Setelah dari SPBU, sepanjang jalan Kaliurang (jakal) pemandangan berubah lagi. Sepanjang jalan yang terlihat adalah para biker yang semangat bersepeda. Jangan ditanya keringat yang mengalir dari tubuh mereka mengingat jalan ini jalan yang sedikit menanjak.

Suasana jalan menuju ke utara relatif sepi dan pemandangan tetap masih berbau pedesaan, udara yang segar dan semakin banyak biker. 

Akhirnya sampai ke pertigaan, kita ngambil jalan lurus aja, namun awalnya agak heran, tempatnya kok sepi, sebuah tanah kosong yang, terdapat bangunan tua yang sudah tak berpenghuni, ada beberapa pohon ceri, rumput liar yang subur…
Namun, dipenghujung jalan ternyata pemandangan begitu bertolak belakang.., disana telah terparkir puluhan sepeda para bikers yang sedang istirahat, bercanda dan menikmati sarapan .

Hoaaaa, ternyata ternyata ternyata…, inilah meeting point para bikers itu. Mereka sangaaaaat rame., tertawa, selonjoran, nyruput teh, makan gorengan, sharing., (dalam hati………andai bersepeda juga …., mungkin akan terasa lebih nikmat sarapan pagi ini)

Meeting point inilah tempat sarapan yang dijanjikan mas trio itu. Jangan membayangkan tempatnya adalah sebuah tempat yang mewah, bangunan batu , baru dan embel2 modern lainnya. Tempat ini adalah sebuah warung kecil, ( mengapa aq katakan kecil karena untuk lewat d pintunya harus gantian, entah karena body ku yg besar atau karena ruameeenya sehingga sedikit berdesakan. Dan juga klo mau masuk ke bagian dalam warung , yg memiliki postur tubuh beda harus hati-hati dengan kepala kalau gak mau kejedot)

Hal pertama yang ku perhatikan dari warung ini adalah, koleksi gelas mereka yang pasti melebihi 10 lusin. Karena saking banyaknya pengunjung, gak mungkin mereka akan cepat mencuci dan mengeringkan gelasnya, jadi mau gak mau mereka harus punya gelas yg banyak.

Menu sarapan disini adalah menu yang sederhana, dari minuman teh hangat, berbagai jenis gorengan, pisang rebus , hingga arem-arem. harganya relatif sangat murah.. qta bertiga makan sampe full cuma bayar 20 ribu. Sedikit penasaran dengan pengolahan makanan, aq mencoba untuk masuk kedapur mereka dengan alasan ingin kebelakang ( padahal emang beneran mau setor.., dingin  dingin dingin..) .

rebutan milih menu sarapan

Didapur, ternyata masi ada beberapa orang yang masih dan sedang mengolah beberapa menu. ada yang sedang menggoreng tahu isi dan membuat tahu isi. Lumayan bersih. mereka menggoreng masi menggunakan tungku. Memasak dengan menggunakan kayu bakar, masih sangat tradisional.

Hal menarik lain yang ditemui pagi ini adalah adanya seorang bapak yang sangat pinter membaca keadaan, ia berjualan berbagai aksesoris bersepeda, dari baju, celana, kacamata hingga lonceng untuk sepeda. Iseng-iseng mendekati penjual, melihat transaksi yang terjadi, seorang pembeli sedang nego harga sebuah baju untuk para bikers dengan harga jadi 80 ribu Rupiah.

 

 

 

Setelah kenyang , qta memutuskan untuk melanjtkan perjalanan ke atas.  hmm lagi -lagi.., walau jalan menanjak, tak menyurutkan niat mereka untuk terus naik ke Kaliurang. ternyata diatas pun sudah begitu banyak pengendara sepeda yang sudah menikmati udara segar kaliurang.

hmm, pemandangan yang sangat langka yang tidak bisa kutemui di kota ku. ( kota ku kan gak ada gunung hahahahhaaaaa)

Jogja – Solo

lagi-lagi memanfaatkan waktu kosong dikala dosen tak ada…

-Jogja, Klaten, Solo-

awalnya gak ada niatan tuk jalan2, karena stel niat utama adalah kuliah dengan pak tri dan buk sri, trus pulangnya nyari buku dan klo sempat ngadiri pengajian…

tapi rencana tinggal rencana..

pada saat mata kuliah Desain Sistem Informasi, dapat bisikan klo ada tawaran jalan2 ke Solo tuk nonton wayang d uns..

[dasar tuklang melalak, dapat tawaran ya langsung terima, gak mikir pake apa n ngapain disana ntar]

jam 2 siang kurang dikit, alkhirnya qtA [ Aq, Mila, Nining, mas Alanti, rita n buk yet] meluncur dengan penuh keyakinan dan percaya diri ke solo..pake motor..

menuju solo tidak sulit, karena jalannya ya lurrrrrrruuuuuuuuuuuuuuuuussssssssssssssssssssss aja, paling pengkolan dikit.

selama perjalanan menuju solo, melewati klaten dan kertosuro

KLATEN

kota lintas yang lumayan rame, ditambah lagi hari ini weekend, maka orang2 pun hulu kile tak menetu arah…

sepertinya tidak ada yg terlihat special di kota ini, apakah karena cuma numpang lewat aja..

trus perjalanan melewati kertosuro..

sepanjang perjalanan memperhatikan sign board yang ada di tepi jalan.. ada beberapa tulisan yang mengusik fikiranku

1. WONOGIRI..

membaca tulisan ini jadi ingat sinetron cinta fitri . dalam sinetron ini diceritakan fitri berasal dari wonogiri..

[dalam hati bicara sendiri…. oh ini toh kampung halaman si fitri itu…]

klo ingat cinta fitri, tentunya juga ingat dengan mama…

ya mama paling suka nonton sinetron ini, terakhir pas pulang ke pekanbaru, ngeliat mama ditonton oleh sinetron ini alis dia ketiduran d depan tipi.. ^_^

2. SURABAYA

hahaha.. kapanlah ya kesana lagi, kemaren kesana cuma muter doang.. gak sempat poto-poto….:(

 

Setelah lama tak berkendaraan, perjalan jogja-solo lumayan bikin pa**at kesemutan juga.. klo gak mikir bawa emak2 ya ngebut aja, tapi taunya siemak2 yang ninggalin kita.. @_@
Perjalanan memakan waktu hampir dua jam, karena jalan santai sambil nikmati pemandangan..

saking santainya, mila aja bisa tidur di bonceng pake motor.. dasar mila…

———

akhirnya nyape juga d solo..

kesan  d solo..

– kotanya lumayan tertib, [ apa karena lagi banyak polisi beredar dijalan n nangkring d tiap persimpangan ya..]

trus makin masuk kearah kota, ternyata sedikit semrawut juga karena banyaknya persimpanagn yang tidak simetris… [ simpangnya terlalu luas… jadi d keliatan cabang2 jalannya…

– orangnya ramah2.. saking ramah dan baikhatinya, ketika nanya arah jalan ke UNS, mereka memberikan 2 jalan yang bertolak belakang, yang satu bilang kearah kiri, yang satu bilang kearah kanan.. yang ada kita ngambil jalan tengah, lurus aja…

– akhirnya nanya lagi sama mas2 yang ketemu di bang-jo , dan sepertinya ini bisa di percaya, masnya bilang, kekanan aja, bang-jo ke dua trus kekiri,  pas d bang-jo kedua, dia nunjukkin jalan masuk ke gerbang utama UNS.. (alhamdulillah.. nyampe juga)

TERNYATA… orang pertama yang ngajak keSOLO A.K.A. pak budi , masi di bus dan busnya masi d kertosuro… ya sudah kita putuskan tuk cari makan, karena udah pada kelaparan… lagi2 dapet cerita

Menu ayam kremes kita semuanya massssssssssiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnn tiada terkira….

( hmm kalaulah mak aku tau, dah keno sungutlah tukang masak ni,,. ” nak kawen agaknyo yang masak ayam ni..?”, ngapo masin betol.. murah garam sekilo di Solo ni agaknyo..)

 

trus, siap makan balik lagi ke UNS, akhirnya qta mutusin masuk ke kampus trus muter2 dalam kampus…..

adem…

kalaulah kampus unilak macam ni.. alangkah sedapnya… tak payah berpanas2 nak kemana2.

kampus UNS teduh.. walo kontur tanah yang tidak rata, tak mengurangi indahnya kampus.. pohon2 juga banyak, kampus menjadi lebih teduh dan adem..[ klo banyak nyamuk ntah lah ya…, soalnya tadi cuma muter aja, tak pakai singgah].

trus kita berhenti di mesjid kampus. sebelum ketemu mesjid, qta ketemu pura dan vihara juga.. ( hmmmm,kerukunan umat beragama, tapi sayang qta gak ngeliat gereja..{mungkin juga ada, cuam qta aja yg gak ngeh n gak merhatiin}]

akhirnya qta keluar kapus lewat jalan belakang..

[ dalam hati masi bertanya-tanya.. bisa gak ya unilak jadi adem lagi kayak uns..[pan pohon2nya dah banyak di tebang],

[ bukannya ditanami dulu pohon baru.., trus pohon yg lama barulah di tebang]

SEMOGA….

keluar dari UNS, ternyata mengakhiri perjalanan kita d solo..[ perjalanan yang sangat singkat sekali, dengan keputusan gak jadi nonton wayang, karena langit dah gelap].

siapa bilang mendung tak berarti hujan. Buktinya langit gelap mencurahkan seluruh airnya ke bumi. Hujan lebat sepanjang jalan solo- jogja.

Dalam perjalanan sempat berhenti beberapa kali, karena hujan yang terlalu lebat dan mata yang perih karena tak sanggup melawan anugrah ilahi..

“walau badai menghadang” —> “walo hujan lebat dan petir menggelegar….”

qta tetep pede melanjutkan perjalanan pulang dengan jas hujan seadanya.. kita terus meluncur ke jogja, walo kesulitan liat  jalan..

penyakit kambuh..

aq dan mila gak ngeliat lampu merah d depan candi prambanan. yang ada ada kita kelewatan dan berhenti pas ditengah-tengah simpang empat.

mati kita– sempat ada polisi.. melayanglah sibiru dari dompet…

diam-diam kita mundurin motor, tapi masih jauh dari garis batas, ya sudah kita belok ke kiri, dan ternyata kita masuk kepasar.. hahhahaha.. jalan pelan2 diantara org duduk d emperan dan sayur2 yg bergeletakan di jalan-jalan..

akhirnya bebas dari bang-jo, kita pun tancap gas secepatnya, tak taunya beberapa menit kemudian

tiitiittttii tii tiit tiiti ttittt…., bunyi klason terus2an, seperti disuruh minggir, akhirnya pasrah, bakalan ditilanglah malam ini, dan melayanglah si biru…,pas mau berhenti..

THX God..[Alloh tau kita anak kos yang krisis keuangan..], ternyata cuma org yang lagi buru2 yang minta jalan..

sileeeeeeee pakcek.. jalanlah…

selamaaaaaaaaaaaaaaatttt…

 

has been post on fb note’s with tittle

Cerita dari Solo